Pengolahan Bioethanol sebagai Energi Alternatif

12 09 2008

Banyak berita mengenai pengolahan Bioethanol saat ini, tidak lebih ramai dibandingkan berita tentang Blue Energi-pak Djoko. Dalam hal ini banyak pendapat pro dan kontra mengenai segala upaya pencarian energi alternatif terbarukan, seperti Bioethanol ini. Maklum, bahwa sosialisasi tentang Bioethanol memang tidak segencar, ketika wacana Biodiesel yang diolah dari tanaman Jarak (Jathropa) diluncurkan beberapa tahun lalu. Namun gebrakan pemerintah tidak didukung secara nasional dan hanya terkesan simbolis. Padahal potensi Bioethanol sebagai sumber energi alternatif cukup besar dan prospektif.

Bioethanol dihasilkan dari bahan baku nabati seperti Ubi Kayu (Singkong), Jagung dan Sorghum, Aren dan Molases (Limbah Tetes Tebu). Di Indonesia, jagung masih menjadi sumber makanan pokok dibeberapa daerah atau menjadi campuran bahan baku makanan. Sehingga biaya produksinya menjadi mahal. Tidak seperti di Amerika Serikat dan Brazil, dimana jagung mudah diperoleh, karena jumlahnya yang melimpah. Di Indonesia, karena kurangnya sosialisasi tentang Bioethanol dan rendahnya tingkat persepsi masyarakat, menyebabkan mereka enggan menanam tanaman lain yang dianggap kurang menguntungkan.

Sehingga perlu dicari sumber bahan baku lain yg lebih memadai, seperti misalnya Sorghum (di Jawa dikenal dengan nama Canthel), Singkong (Cassava) atau Molases (yg bisa diperoleh dari pabrik gula). Beberapa perusahaan besar yang bergerak di bidang energi melakukan pengolahan Bioethanol disesuaikan dengan potensi sumber bahan baku yang ada di daerah tempatan. Misalnya singkong banyak ditanam di daerah Lampung, Sukabumi atau Sorghum ditanam di Jawa Timur dan Kalimantan Timur (oleh PT.BLUE Indonesia). Beberapa pabrik gula yang menghasilkan molases juga biasanya sudah memiliki pelanggan tetap, karena molases merupakan bahan baku untuk bumbu penyedap masakan seperti Sasa, Miwon atau Ajinomoto.

Memang ada kekuatiran bahwa popularitas Bioethanol ini mendorong banyak pendatang baru di bidang bisnis energi terbarukan ini, baik secara individu, kelompok dan industrialis. Padahal pengolahan Bioethanol bisa dikerjakan secara bersama-sama oleh warga tempatan di desa atau kampung di pedalaman, maupun di perkotaan sebagai penganti minyak tanah maupun campuran bensin premium (untuk mendapatkan oktan setara pertamax). Pengolahan Bioethanol ini sekarang lebih cenderung dijalankan oleh para industrialis, karena mereka memiliki sumber pendanaan yang cukup. Namun para pemain kecil di daerah pun sudah mulai banyak, dengan omset puluhan juta tiap bulan.

Belum adanya koordinasi diantara para pengusaha atau perusahaan pengolah Bioethanol, menyebabkan timbul persinggungan yang mungkin lambat-laun akan berubah menjadi ajang persaingan yang kurang sehat. Namun potensi kebutuhan energi nasional masih sangat besar. Sehingga menjadi peluang bagus untuk para pemilik modal, yang berminat dengan bidang ini. Tidak ada salahnya untuk kita mencoba mempelajari pengolahan Bioethanol, secara teknis dan non-teknis agar dapat mengetahui proses pengolahan yang baik dan benar. Terutama untuk perhitungan ekonomi bisnis-nya, karena sebetulnya apabila kita ingin terjun ke bisnis ini harus menyediakan sumber bahan baku hingga kepada mesin produksi dan ketika hasil ouput siap untuk dipasarkan (dalam hal ini mitra bisnis yang siap menampung).

Berbagai pelatihan mengolah Bioethanol pun telah diadakan oleh berbagai instansi, misalnya SBRC Institut Pertanian Bogor dan Majalah Trubus. Mereka menyelenggarakan pelatihan selama dua hari dengan biaya yang lumayan mahal. Namun pengalaman saya mengikuti pelatihan di IPB Bogor, agak mengecewakan karena tidak bisa terjun langsung pada prakteknya. Padahal inti dari pelatihan ini adalah pada praktek atau terjun langsung mengolah bahan baku menjadi Bioethanol. Meski hanya sebatas simulasi, namun paling tidak para peserta dapat membayangkan proses pengolahan yang sebenarnya, bukan hanya menebak-nebak aja. Oleh karena itu, saya sempat berandai apabila saya bisa membuat pelatihan mengolah Bioethanol, saya mengharapkan agar para peserta dapat terjun langsung dalam proses pengolahan Bioethanol tersebut.

Makanya saya berinisiatif menggandeng beberapa teman dari BATAN dan PT.BLUE Indonesia yang telah berkiprah dalam hal pengolahan Bioethanol dan Biodiesel di Balikpapan, Kal-Tim untuk dapat bersama-sama menyelenggarakan suatu pelatihan yang benar-benar bermanfaat bagi calon pengusaha Bioethanol maupun rekan-rekan yang ingin mengetahui lebih dalam mengenai seluk-beluk pengolahan Bioethanol ini. Meski memang tidak mudah untuk membuat suatu pelatihan yang dapat memuaskan rasa keingin-tahuan seluruh peserta. Namun paling tidak, para peserta dapat diberikan kesempatan untuk melihat ’step-by-step process’ dalam melakukan pengolahan Bioethanol.

Sesungguhnya saya dan rekan-rekan tersebut diatas, berniat menyelenggarakan pelatihan pengolahan Bioethanol untuk skala kecil untuk ‘home industry’, karena kami berpikir bahwa secara teoritis pengolahan dalam skala kecil ini mampu dibuat oleh masyarakat umum, baik yang tinggal di pedesaan maupun daerah terpencil asalkan bahan baku-nya tersedia dan mudah diperoleh. Lebih lanjut mengenai pelatihan ini dapat dilihat pada situs BSL Energi:

http://www.bsl-online.com/energi

Harapan kami, upaya yang dilakukan dalam pencarian sumber energi alternatif tidak hanya berhenti hingga pada pelatihan ini, tetapi terus berlanjut pada tindak-lanjut pendampingan secara teknis dan non-teknis kepada setiap alumni pelatihan secara kontinyu, apabila memang dibutuhkan. Kami mengharapkan bahwa studi lanjut mengenai pengolahan Bioethanol akan terus berlanjut, mengingat masih sedikitnya referensi yang dapat diperoleh berkaitan dengan Sumber Energi Alternatif. Jangan berpikir bahwa hanya Bioethanol satu-satunya sumber energi alternatif. Sesungguhnya masih ada banyak lagi sumber energi alternatif disekeliling kita, namun kita tidak mengetahuinya karena keterbatasan ilmu dan wawasan kita.


Tindakan

Information

Tinggalkan komentar

Anda harus masuk log untuk mengirim sebuah komentar.