Order Melimpah dari Pengurai Limbah Septictank MW-01

21 10 2008

Setelah saya menjalani bisnis sebagai sub-agen produk Cairan Pengurai Limbah Septic Tank, MW-01 dari BSL, ternyata dua bulan terakhir ini sudah ada peningkatan volume penjualan agak signifikan. Dibanding awal mulai saya mengenalkan produk ini ke pasaran di wilayah perumahan saya di Bintaro dan sekitarnya, malah sekarang banyak permintaan datang dari daerah pinggiran Jakarta dan luar Jabodetabek.

Kemarin, saya menerima berita dari Aceh, Balikpapan dan Karawang untuk permohonan menjadi agen/sub agen. Dikarenakan keterbatasan waktu dan SDM yang saya miliki saat ini, maka beberapa permohonan menjadi agen diluar kota telah disampaikan kepada BSL Pusat up. Bapak Budi Purnomo, Marketing and Distribution Manager. Beliau dengan sangat antusias menyambut baik permohonan kerjasama tersebut dan mengharapkan agar edukasi lingkungan dan rumah yang sehat tetap diteruskan oleh para agen/sub agen BSL di manapun mereka berada.

Insya Alloh, akan ada sinergi antara BSL sebagai perusahaan induk yang bergerak dibidang pengolahan limbah dan sampah, dengan Buana Sarana Lumbung Energi, sebuah UKM yang bergerak dibidang Pengolahan Energi Alternatif, Biofuel dan Bioethanol dan menjadi mitra dari PT.BLUE Indonesia, praktisi dan produsen Bioethanol dan Bioedisel di Balikpapan, Kalimantan Timur. Sinergi ini sudah mulai bisa dijalankan per tanggal efektif 1 November 2008 dan penandatanganan MOU Kerjasama akan segera ditindak-lanjuti.

Kemudian, diharapkan bagi para agen dan sub-agen dari MW-01 BSL akan bisa menjadi ‘representative agent’ secara langsung dan tidak bagi pengembangan jaringan bisnis pengolahan limbah dan sampah, juga terlebih khusus pengolahan energi alternatif, biofuel dan bioethanol. Betapa prospek bisnis yang sangat strategis dan menguntungkan, menjunjung semangat win-win solution, dibangun dan dikelola oleh manajemen BSL dan para mitra bisnisnya. Sehingga, keberlangsungan sinergi bisnis yang sudah terjalin diantara pihak-pihak terkait dapat dipelihara dan terus berkesinambungan.

Saya tetap bersemangat menjalankan bisnis cairan pengurai limbah septic tank ini, alhamdulilah akan menjadi ladang amal sekaligus bisa beribadah sambil menjalankan bisnis. Karena menjalankan bisnis ini, juga mengajarkan betapa pentingnya menjaga kesehatan keluarga dan lingkungan di rumah. Tentunya himbauan dan ajakan ini tidak hanya menjadi jargon saja, tetapi dilaksanakan dengan penuh kesadaran dan tanggung-jawab, mengingat septic tank adalah bagian dari rumah yang berperan dalam pembuangan seluruh air kotoran yang berasal dari rumah dan diusahakan tidak mencemari air resapan tanah yang dipakai sebagian besar penduduk di kota-kota besar.

Mari bergabung menjadi reseller, agen dan sub-agen dari produk cairan pengurai limbah septic tank, MW-01 ini! Untuk informasi menjadi agen dan sub agen di kota anda, silahkan hubungi bapak Budi Purnomo, ST. (Marketing and Distribution Manager) di 021 – 744 25 61 atau Fax 021 – 744 25 59 (jam kerja) atau mobile 021 – 910 54 158.

Good luck Entrepreneurs!





Pengolahan Bioethanol sebagai Energi Alternatif

12 09 2008

Banyak berita mengenai pengolahan Bioethanol saat ini, tidak lebih ramai dibandingkan berita tentang Blue Energi-pak Djoko. Dalam hal ini banyak pendapat pro dan kontra mengenai segala upaya pencarian energi alternatif terbarukan, seperti Bioethanol ini. Maklum, bahwa sosialisasi tentang Bioethanol memang tidak segencar, ketika wacana Biodiesel yang diolah dari tanaman Jarak (Jathropa) diluncurkan beberapa tahun lalu. Namun gebrakan pemerintah tidak didukung secara nasional dan hanya terkesan simbolis. Padahal potensi Bioethanol sebagai sumber energi alternatif cukup besar dan prospektif.

Bioethanol dihasilkan dari bahan baku nabati seperti Ubi Kayu (Singkong), Jagung dan Sorghum, Aren dan Molases (Limbah Tetes Tebu). Di Indonesia, jagung masih menjadi sumber makanan pokok dibeberapa daerah atau menjadi campuran bahan baku makanan. Sehingga biaya produksinya menjadi mahal. Tidak seperti di Amerika Serikat dan Brazil, dimana jagung mudah diperoleh, karena jumlahnya yang melimpah. Di Indonesia, karena kurangnya sosialisasi tentang Bioethanol dan rendahnya tingkat persepsi masyarakat, menyebabkan mereka enggan menanam tanaman lain yang dianggap kurang menguntungkan.

Sehingga perlu dicari sumber bahan baku lain yg lebih memadai, seperti misalnya Sorghum (di Jawa dikenal dengan nama Canthel), Singkong (Cassava) atau Molases (yg bisa diperoleh dari pabrik gula). Beberapa perusahaan besar yang bergerak di bidang energi melakukan pengolahan Bioethanol disesuaikan dengan potensi sumber bahan baku yang ada di daerah tempatan. Misalnya singkong banyak ditanam di daerah Lampung, Sukabumi atau Sorghum ditanam di Jawa Timur dan Kalimantan Timur (oleh PT.BLUE Indonesia). Beberapa pabrik gula yang menghasilkan molases juga biasanya sudah memiliki pelanggan tetap, karena molases merupakan bahan baku untuk bumbu penyedap masakan seperti Sasa, Miwon atau Ajinomoto.

Memang ada kekuatiran bahwa popularitas Bioethanol ini mendorong banyak pendatang baru di bidang bisnis energi terbarukan ini, baik secara individu, kelompok dan industrialis. Padahal pengolahan Bioethanol bisa dikerjakan secara bersama-sama oleh warga tempatan di desa atau kampung di pedalaman, maupun di perkotaan sebagai penganti minyak tanah maupun campuran bensin premium (untuk mendapatkan oktan setara pertamax). Pengolahan Bioethanol ini sekarang lebih cenderung dijalankan oleh para industrialis, karena mereka memiliki sumber pendanaan yang cukup. Namun para pemain kecil di daerah pun sudah mulai banyak, dengan omset puluhan juta tiap bulan.

Belum adanya koordinasi diantara para pengusaha atau perusahaan pengolah Bioethanol, menyebabkan timbul persinggungan yang mungkin lambat-laun akan berubah menjadi ajang persaingan yang kurang sehat. Namun potensi kebutuhan energi nasional masih sangat besar. Sehingga menjadi peluang bagus untuk para pemilik modal, yang berminat dengan bidang ini. Tidak ada salahnya untuk kita mencoba mempelajari pengolahan Bioethanol, secara teknis dan non-teknis agar dapat mengetahui proses pengolahan yang baik dan benar. Terutama untuk perhitungan ekonomi bisnis-nya, karena sebetulnya apabila kita ingin terjun ke bisnis ini harus menyediakan sumber bahan baku hingga kepada mesin produksi dan ketika hasil ouput siap untuk dipasarkan (dalam hal ini mitra bisnis yang siap menampung).

Berbagai pelatihan mengolah Bioethanol pun telah diadakan oleh berbagai instansi, misalnya SBRC Institut Pertanian Bogor dan Majalah Trubus. Mereka menyelenggarakan pelatihan selama dua hari dengan biaya yang lumayan mahal. Namun pengalaman saya mengikuti pelatihan di IPB Bogor, agak mengecewakan karena tidak bisa terjun langsung pada prakteknya. Padahal inti dari pelatihan ini adalah pada praktek atau terjun langsung mengolah bahan baku menjadi Bioethanol. Meski hanya sebatas simulasi, namun paling tidak para peserta dapat membayangkan proses pengolahan yang sebenarnya, bukan hanya menebak-nebak aja. Oleh karena itu, saya sempat berandai apabila saya bisa membuat pelatihan mengolah Bioethanol, saya mengharapkan agar para peserta dapat terjun langsung dalam proses pengolahan Bioethanol tersebut.

Makanya saya berinisiatif menggandeng beberapa teman dari BATAN dan PT.BLUE Indonesia yang telah berkiprah dalam hal pengolahan Bioethanol dan Biodiesel di Balikpapan, Kal-Tim untuk dapat bersama-sama menyelenggarakan suatu pelatihan yang benar-benar bermanfaat bagi calon pengusaha Bioethanol maupun rekan-rekan yang ingin mengetahui lebih dalam mengenai seluk-beluk pengolahan Bioethanol ini. Meski memang tidak mudah untuk membuat suatu pelatihan yang dapat memuaskan rasa keingin-tahuan seluruh peserta. Namun paling tidak, para peserta dapat diberikan kesempatan untuk melihat ’step-by-step process’ dalam melakukan pengolahan Bioethanol.

Sesungguhnya saya dan rekan-rekan tersebut diatas, berniat menyelenggarakan pelatihan pengolahan Bioethanol untuk skala kecil untuk ‘home industry’, karena kami berpikir bahwa secara teoritis pengolahan dalam skala kecil ini mampu dibuat oleh masyarakat umum, baik yang tinggal di pedesaan maupun daerah terpencil asalkan bahan baku-nya tersedia dan mudah diperoleh. Lebih lanjut mengenai pelatihan ini dapat dilihat pada situs BSL Energi:

http://www.bsl-online.com/energi

Harapan kami, upaya yang dilakukan dalam pencarian sumber energi alternatif tidak hanya berhenti hingga pada pelatihan ini, tetapi terus berlanjut pada tindak-lanjut pendampingan secara teknis dan non-teknis kepada setiap alumni pelatihan secara kontinyu, apabila memang dibutuhkan. Kami mengharapkan bahwa studi lanjut mengenai pengolahan Bioethanol akan terus berlanjut, mengingat masih sedikitnya referensi yang dapat diperoleh berkaitan dengan Sumber Energi Alternatif. Jangan berpikir bahwa hanya Bioethanol satu-satunya sumber energi alternatif. Sesungguhnya masih ada banyak lagi sumber energi alternatif disekeliling kita, namun kita tidak mengetahuinya karena keterbatasan ilmu dan wawasan kita.





[Produk Baru]: Cairan Pengurai Lemak — Cocok Untuk Usaha Restoran!

21 06 2008

Sekian lama saya tidak meng-update berita di blog ini ya.. Tentunya saya sedang berusaha mengembangkan sesuatu yang baru, produk yang bisa mendatangkan uang yang bener-bener hasil usaha. Bukan bisnis sekedar bisnis, yang berjanji manis tetapi hasilnya tidak ada..

Sekarang saya dan teman-teman produsen Cairan Pengurai Limbah dari BSL, meluncurkan Cairan Pengurai Lemak, yang meskipun masih dalam tahap uji coba atau bahasa IT-nya software..Beta Version, tetapi sudah ada yang berminat. Cairan pengurai lemak ini memang masih ’saudara kandung’-nya Cairan Pengurai Limbah. Namun berbeda isi dan peruntukannya. Nah, kalo cairan pengurai Lemak ini cocok untuk mereka yang berbisnis berjualan makanan, baik yang cepat saji maupun tradisional/konvensional. Tentunya baik itu warung, restoran, kedai makanan ataupun catering, bisa menggunakan produk cairan pengurai lemak ini.

Cairan pengurai lemak ini dalam penggunaannya berbeda dengan saudaranya pengurai limbah. Karena ternyata melalui hasil observasi kita, bahwa setiap restoran atau catering itu tidak memiliki tempat pengolahan limbah/sampahnya yang berukuran standar atau sama persis. Beda restoran atau catering, beda pula media/wadah pengolahan sampah/limbahnya. Tentunya ini berlaku untuk restoran yang berada di kawasan ruko/perumahan, bukan yang berada di Mall atau Kawasan Hiburan. Karena biasanya untuk masalah sampah sudah termasuk jasa layanan sebagai tenant yang menyewa tempat di mall/kawasan dan pihak pengelola mall sudah mengaturnya.

Tentunya cairan pengurai lemak ini merupakan suatu produk yang hingga saat ini belum ada/jarang memiliki pesaing atau kompetitor-nya. Sehingga memiliki prospek yang bagus di kemudian hari, tentunya setelah melalui proses penyempurnaan dan pengembangan lebih lanjut. Bila anda pemilik atau calon pemilik restoran atau catering yang sedang memikirkan masalah pembuangan limbah/sampah organik (sisa-sisa makanan) bukan non-organik lho..silahkan berkonsultasi dengan kami atau menggunakan produk kami. Karena biasanya kami harus melakukan survei terlebih dahulu ke restoran/catering yang berminat. Sebagai contoh beberapa hari lalu, kami mengadakan survei atas permintaan pemilik restoran seafood terkenal di daerah Kemang, untuk melakukan uji-coba Cairan Pengurai Lemak ini.

Hasilnya mudah-mudahan bisa kami jabarkan disini dalam waktu dekat. Terima kasih.

Ingin informasi lebih lanjut tentang produk baru ini?

Anda bisa hubungi via e-mail: IrsanĀ  —iipn@cbn.net.id